Candi ini mempunyai ketinggian 46-49 m di atas
Petirtaan ini terletak di bawah permukaan tanah dan berdenah bujur sagkar yang mempunyai ukuran 21,25 x 22,75 m dan kedalamannya ± 3,5 m. Pada bangunan Petirtaan Tikus terdapat tiga undakan yang berupa teras dengan lebar lantai teras I adalah 1,89 m, teras II 1,50 m, dan teras III 1,30 m, dengan ukuran didnding rata-rata 1,50 m. Pada dinding terbawah yakni sepanjang sisi barat-selatan-timur teras I, terdapat pancuran air yang berbentuk makara dan padma yang terbuat dari batu andesit. Tangga masuk di sisi utara sekitar 80 cm dari teras III, dan di situ masih dapat dijumpai sisa-sisa tembok yang berukuran tinggi 30 cm dan lebar 1,10 m. Akan tetapi bentuk struktur tembok dari bata ini belum diketahui karena bagian ujung barat dan timurnya telah rusak.
Di sebelah selatan lantai teras I terdapat bangunan induk dan dua bilik kolam terletak di sudut dan seebelah timur yang mangapit tangga masuk bagian utara.
Bangunan bilik kolam ada dua buah, yang berada di lantai dasar koam dan berada di sisi barat dan timur. Kedua bilik yang terbuat dari batu bata ini memiliki ukuran yang sama yaitu panjang 3,5 m, lebar 2 m, dan tingginya 1,5 m. Pada sisi utara bagian dalam bilik kolam terdapat tiga pancuran air dengan tinggi 80 cm dari kaki kolam. Di sisi selatan terdapat tangga untuk masuk kolam setinggi 1 m. Selain itu ada beberapa saluran air lainnya yang berfungsi sebagai pengatur sikulasi di dalam kolam, yang terdapat di sebelah timur tangga kolam barat. Di bilik ini juga tedapat dua lubang, yaitu lubang pertama setinggi 80 cm dari lantai dasar yang berguna untuk mengalirkan air keluar supaya tidak meluap, sedangkan lubang yang kedua terletak di bawah rata dengan lantai dasar kolam, mungkin yang berfungsi sebagai tempat pembuangan air ketika kolam tersebut dibersihkan. Sumur yang berbentuk bujursangkar ini terletak sekitar 2 m di sebelah barat laut tembok bangunan petirtaan. Ukuran sumur ini adalah 97 x 97 cm, dengan kedalaman 2,57 m dari permukaan tanah dan mempunyai bibir sumur yang tersusun dari batu bata kurang lebih dua lapisan. Hubungan sumur dengan bangunan Petirtaan Tikus sampai sekarang belum diketahui secara pasti.
Situs Lantai Segi Enam
Trowulan, Situs ini terletak di Desa Sentonorejo, KecamatanKabupaten Mojokerto, yang berupa lantai bangunan kuno yang ditemukan pada tahun 1980. Struktur yang terbuat dari bata ini berukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dan merupakan dasr bangunan yang memperlihatkan 2 bentuk lantai dari dua masa yang berlainan. Lantai bagian bawah berada di sebelah timur dengan menggunakan lantai bata segi enam, sementara bagian barat berlantai segi empat. Lantai bagian atas berada di barat yang memakai ubin bata segi empat.
Diantara lantai atas dan lantai bawah berisi timbunan tanah serta pecahan genting. Situs ini kemungkinan merupakan suatu pemukiman jaman dulu yang dilihat dari keadannya (lantai-lantai segi enamnya) bisa jadi merupkan tempat tinggal seseorang
dengan staus sosial yang tinggi. keunikan situs ini adalah bahwa lantai segi enam sampai saat ini hanya ditemukan pada situs situs ini saja di Trowulan.
Gapura Bajang Ratu
Gapura Bajang Ratu terletak di Dusun Kraton, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Gapura Bajang Ratu ini seluruhnya dibuat dengan menggunakan bahan batu bata, kecuali bagian tangga masuk dan pipi tangga yang terbuat dari batu kali. Gapura Bajang Ratu bentuknya adalah paduraksa, yaitu gapura yang bagian atapnya menyatu dengan tubuh bangunan. Sebagai informasi bentuk gapura yang lain adalah candi bentar, yaitu gapura yang bentuknya candi yang terbelah dua, dapat dilihat pada gapura yang ada di pure-pure di Bali atau juga bisa di lihat pada Gapura Wringin Lawang. pada gapura ini terdapat relief yang menggambarkan raksasa yang sedang berkelahi ,dan juga terdapat relief Sri Tanjung,
sedangkan pada ambang pintu terdapat relief kala. Dari bekas lubang pada ambang pintu gapura, diduga gapura ini memiliki daun pintu yang terbuat dari kayu atau mungkin besi, karena di dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa salah satu gapura kratonnya terbuat dari besi yang berukir. Pemugaran candi pernah dilakukan pada tahun 1935, yakni di bagian ambang pintu yang terbuat dari tiang besi dan sekarang masih ada. Menurut kepercayaan penduduk, nama Bajang Ratu berasal dari kata bajang yang berarti gagal atau kecil, dan ratu yang berarti raja, sehingga kata Bajang Ratu berarti gagal menjadi raja atau menjadi raja ketika masih kecil. Gapura ini mungkin dulu terdapat tembok yang lebih panjang, jika dilihat dari bagian samping gapura terdapat tembok yang sepertinya runtuh.